Simplifying Life

Fenomena Perayaan Zhong Yuan di Singkawang dan Sekitarnya(Chit Nyiat Pan)

Vihara Chi Kung di Sin Nam, Singkawang

Sudah menjadi kebiasaan pada awal bulan ke-7 tanggalan imlek, kota Singkawang dan sebagian kota di Kalimantan Barat akan dipenuhi oleh “kembalinya” penduduknya yang merantau ke kota lain. Pada tahun ini yang bulan ke-7 tangggalan imlek ini biasa disebut chit nyiat pan oleh orang Singkawang dan sekitarnya  akan jatuh di bulan Agustus 2010. Tujuan dari kembalinya ke kota Singkawang oleh penduduknya adalah untuk sembahyang kubur atau tradisi perayaaan Zhong Yuan. Sembahyang kubur pada bulan ke-7 ini adalah tradisi budaya etnis Tionghoa yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Sejak dulu kala masyarakat Tionghoa percaya bahwa selama bulan  ke-7, pintu neraka dibukakan agar hantu-hantu lapar turun ke bumi. Sebenarnya Perayaan Zhong Yuan adalah peringatan pada nenek moyang, tetapi sejak agama Buddha datang ke Cina, perayaan tersebut dipengaruhi unsur Buddha dan sering disebut dengan Yu Lan Pen Jie. Yu Lan Pen ini sering diartikan sebagai Ulambana yang bermakna sebagai upacara untuk mendoakan leluhur atau orang tua yang mendahului kita. Tetapi menurut seorang ilmuwan Perancis, Yu Lan Pen bukan berasal dari kata Ulambana, tetapi dari kata Avalambana yang berarti sesaji keberuntungan yang dibuat untuk seluruh masyarakat yang berasal dari perayaan di India.

Sekarang, Yu Lan Pen Jie lebih dikenal sebagai Ulambana. Ulambana berasal dari sutra Buddha yang pernah menganjurkan muridnya Mogallana untuk membentuk masyarakat Yu Lan Pen untuk menolong ibu Mogallana yang menderita di neraka. Dengan Ulambana, Mogallana dapat melakukan pelimpahan jasa pahala  kepada ibunya dengan melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik itu diwujudkan dengan memberikan dana makanan kepada 500 orang arahat yang baru selesai menjalankan masa vassa pada bulan ke-7.  Peringatan ini berkembang menjadi sehingga masyarakat akan menyuguhkan berbagai makanan kepada makhluk penghuni neraka. Di Singkawang sendiri lebih dikenal sebagai festival chiong si ku atau  pemberian sesajian makanan yang dilakukan di vihara dan kelenteng dan diakhiri dengan perebutan makanan sesajian makanan ini oleh warga setempat.

Makanan yang didanakan dalam Chiong Si Ku

Sebelum dilakukan festival chiong si ku masyarakat Singkawang dan sekitarnya akan melakukan ziarah atau sembahyang ke kuburan leluhur. Perayaan ini sering dikaitkan dengan mitos bahwa adanya sembahyang kubur maka rejeki dan usaha dari anak atau keturunannya  akan semakin baik karena restu dari orang tua yang disembahyanginya. Jika ditanyakan ke orang Singkawang yang merayakannya mungkin hampir semua mempercayainya. Dan memang yang sering bisa pulang pergi dari perantauan hanya untuk sembahyang kubur adalah orang yang sudah mempunyai rejeki cukup baik, karena biaya perjalanan dari luar Kalimantan Barat ke Singkawang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Terlepas dari mitos, sebenarnya perayaan Zhong Yuan atau Chit Nyiat Pan pada bulan ke-7 dapat dikatakan bulan bakti kepada orang tua ini sangatlah bermanfaat. Dengan adanya upacara dan sembahyang kubur, kita bisa mengenang jasa-jasa leluhur dan orang tua yang sudah membesarkan kita dengan kasih sayang yang tanpa pamrih. Bakti ini tidak hanya diwujudkan kepada orang yang sudah meninggal tetapi juga harus diberikan kepada orang tua kita yang masih hidup. Dengan adanya peringatan Chit Nyiat Pan ini semoga makna bakti kepada orang tua bisa diteruskan dan dilanjutkan oleh generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s