Simplifying Life

CERITA RINGAN


MENJALANI PENGOBATAN


Suatu hari seorang pria menderita sakit dan pergi ke seorang Dokter untuk meminta pertolongan. Sang Dokter memeriksanya dan menuliskan beberapa resep obat untuknya. Orang ini sudah diberitahukan tentang diagnosis penyakitnya dan dia yakin sepenuhnya pada kemampuan Sang Dokter untuk mengobatinya.

Dia lalu kembali ke rumahnya dan di ruang altarnya dia meletakkan foto sang dokter dalam bingkai emas. Dia meletakkan semua obat-obatannya di samping foto Sang Dokter. Lalu, dia duduk dan memberi hormat tiga kali kepada foto tersebut. Dia pun mempersembahkan beberapa buah manisan, bunga, dan wewangian.

Terakhir, dia mengeluarkan obat dan resep-resepnya dan mulai mengumandangkan, “Dua tablet di pagi hari! Satu sendok teh setelah makan siang! Dua tablet sebelum tidur!” sepanjang hari, dia terus mengumandangkan resep-resep dari Sang Dokter. Karena dia mempunyai keyakinan yang besar terhadapnya.

Keyakinan tumbuh saat dia bertemu dengan Sang Dokter dan bertanya kepadanya mengapa dia meresepkan obat-obat tersebut. Sang Dokter sangat berbelas kasih dan dengan lembut memberitahukan, “Lihat, ini penyakitmu dan ini akar penyebabnya. Jika engkau meminum obat seperti yang telah aku resepkan, engkau akan sehat kembali dalam waktu dua minggu.”

Orang itu lantas berpikir, “Dokterku sangat pandai, peduli dan mengagumkan. Resepnya adalah yang terbaik dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Karena keyakinan itu, dia lalu pergi berkeliling dan mengabarkan kepada setiap orang tentang kebesaran dokternya. Meskipun dia sendiri belum tersembuhkan, dia mulai menyemangati orang lain untuk menggunakan resep tersebut. Sayangnya, dia sendiri tidak pernah disembuhkan kecuali dia menelan obat tersebut.

Memang baik apabila memiliki keyakinan pada Sang Dokter. Tetapi, hanya keyakinan belaka tak dapat menolong mengatasi penyakit kita. Hanya akan berhasil apabila kita sendiri yang menjalani pengobatan dan mempraktekkan resep Sang Dokter dengan tekun. Hanya dengan demikianlah pengobatan itu akan memberikan manfaat.

AYAM DAN BEBEK

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: “Kuek ! Kuek !”

“Dengar, itu pasti suara ayam”, kata si istri.

“Bukan, bukan. Itu suara bebek, “kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuk !’, bebek itu ‘kuek ! kuek !. Itu bebek, sayang “, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

“Kuek ! kuek !” terdengar lagi.

“Nah, tuh ! Itu suara bebek, “ kata si suami.

“Bukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tanda si istri sembari menghentakkan kaki.

“Dengar ya ! Itu a…da…lah…. Be…bek. B-E-B-E-K. Bebek ! Mengerti ?” si suami berkata dengan gusar.

“Tapi itu ayam”, masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue..bebek, kamu…kamu….” (terdengar lagi suara “Kuek ! Kuek !” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.)

Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam…. “

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”

“Terima kasih, sayang, “ kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek ! Kuek !”, terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak hubungan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin , amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

sumber : Ajahn Brahm – cacing dan kotoran kesayangannya (Membuka pintu hati)

MANGKOK KAYU

Ada seorang nenek yang sakit-sakitan, karena tubuhnya sudah dan lemah, maka waktu memegang mangkok sering terjatuh ke lantai dan pecah. Melihat ibunya sering memecahkan mangkok, maka puteranya yang sangat pelit memesan sebuah mangkok yan terbuat dari kayu dan mulai mengatur ibunya makan dengan menggunakan mangkok kayu tersebut. Dengan demikian sang putera merasa tidak harus mengeluarkan uang untuk membeli mangkok baru (porselain) lagi.

Pada suatu hari, sang putera melihat anaknya masih SD sedang bermain sedang memahat sesuatu. Dia merasa heran dan bertanya kepada anaknya, apa yang sedang dilakukannya. Anaknya yang berusia tujuh tahun dengan serius menjawab, “Saya sedang mengukir sebuah mangkok kayu.”

Sang ayah bertanya lagi, “Kamu sedang mengukir mangkok kayu untuk apa?”

Sang anak menjawab, “Ayah, nanti kalau ayah sudah tua, saya juga akan memberikan mangkok kayu untuk ayah. Agar ayah tidak sering memecahkan mangkok porselin ketika makan, dan saya tidak perlu membuang banyak uang!”

Di rumah sakit, sekolah-sekolah, begitu banyak ayah dan ibu yang datang untuk menengok dan menjaga anak-anak mereka. Tetapi di panti jompo, banyak orang tua yang masih memiliki anak , apalagi yang sudah sakit-sakitan, berapa banyak orang keluarga dekatnya  yang datang untuk menengok dan merawat mereka?

Ada pula mereka yang menganggap orang tuanya seperti bola, tendang sana lempar sini, bulan ini numpang di rumah anak yang pertama, bulan berikutnya ngungsi ke rumah anak yang kedua. Bahkan ada yang lebih fatal lagi, pada saat orang tuanya sedang menunggu ajal tiba, yang diperhatikan dan diperebutkan hanyalah harta warisan.

Demikianlah realitas di kehidupan ini, yang banyak kita saksikan adalah para orang tua yang berkorban dan memperhatikan anak-anaknya, jarang sekali kita menyaksikan anak anaknya yang sudah dewasa yang berbakti orang tua dengan tulus dan tahan lama. Kendati demikian, banyak orang tua sebenarnya menyayangi anak-anaknya berdasarkan cinta yang tulus dan tanpa pamrih.

Jadi apabila kita mengharapkan anak-anak kita kelak berbakti kepada kita, mengapa kita memberi contoh terlebih dahulu kepada mereka dengan berbakti kepada orang tua kita.

TANGISAN SEORANG IBU TUA


Di sebuah desa ada seorang nenek yang suka menangis. Setiap hari dia menangis, siang atau malam. Mengapa dia suka menangis? Ternyata dia memiliki dua orang putra. Putra sulung adalah seorang penjual payung. Putra bungsu adalah seorang penjual es keliling.

Bila langit sedang cerah dan udara baik, dia selalu mengkhawatirkan putra sulungnya tidak bisa menjual payungnya. Tetapi kalau cuaca sedang turun hujan, kembali dia merisaukan putra bungsunya, karena kalau cuaca sedang hujan dan dingin bagaimana dia bisa menjual es nya?

Sedangkan apabila matahari sedang bersinar dia menangisi putra sulungnya. Tetapi bila hujan turun, dia menangisi putra bungsunya. Baik cuaca baik atau buruk dia selalu menangis. Oleh karena itu orang-orang menjuluki dia ‘nenek penangis’.

Pada suatu hari, sang nenek berjumpa dengan seorang guru dan bertanya bagaimana bertanya bagaimana mengatasi hal tersebut. Sang guru dengan tersenyum berkata, “Anda tidak dapat mengubah cuaca menjadi baik atau buruk. Tetapi Anda dapat mengendalikan pikiran Anda! Semua keadaan yang baik dan buruk di dunia ini – baik yang dapat kita terima atau tidak – hanya tergantung pada kondisi batin yang tercipta dari cara kita berpikir. Segala sesuatu yang berada di dunia ini memiliki dua sisi, ada terang pasti ada gelap, ada baik juga ada buruk; gelisah, khawatir atau tenang dan sadar adalah dua sisi yang berada dalam batin. Mulai sekarang, bila matahari bersinar terang, bergembiralah untuk putra bungsumu bahwa es nya akan bisa terjual. Bila turun hujan, maka berpikirlah bahwa putra sulungmu dapat menjual lebih banyak payung. Dengan demikian Anda tidak akan lagi gelisah dan bersedih hati.”

Setelah sang nenek mengubah pola pikirnya, dia berubah dari setiap hari menangis menjadi nenek yang murah senyum.

Hujan lebat dan badai topan yang mengguyur bumi suatu saat pasti akan berhenti. Namun badai yang silih berganti menerpa di dalam batin kita, kapan baru dapat menjadi tenang?

Keadaan duniawi yang terus berubah dan tidak kekal selalu mengombang-ambing batin kita, senang atau susah, masalah datang dan pergi, gembira dan gelisah semuanya tergantung batin kita menerimanya; untuk mendapatkan keadaan batin yang kita inginkan, tergantung bagaimana kita mengubah cara berpikir kita.

Ketika kita mengeluh tentang hujan yang turun deras dan membasahi bumi sehingga berlumpur dan membuat kita sulit berjalan, mengapa kita tidak mencoba menarik napas lebih dalam merasakan udara yang lebih segar karena hujan membersihkan debu di jalan?

BATU-BATU BERHARGA

Di sebuah sekolah bisnis terkemuka di Amerika Serikat, seorang profesor menyampaikan sebuah kuliah yang luar biasa tentang ekonomi sosial kepada kelas sarjananya. Tanpa menjelaskan apa yang sedang dilakukannya, dengan hati-hati sang profesor meletakkan sebuah toples kaca di atas mejanya. Lalu, dengan diikuti tatapan mata para mahasiswanya, dia mengeluarkan sekantong penuh batu dan memasukkannya satu per satu ke dalam toples itu, sampai tak ada lagi batu yang bisa dimasukkan. Dia bertanya kepada para mahasiswanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”

“Ya”, jawab mereka.

Sang profesor tersenyum. Dari bawah mejanya, dia meraih tas kedua, yang satu ini penuh kerikil. Dia lalu menuangkan sambil menggoyang-goyangkan kerikil-kerikil itu untuk mengisi celah-celah di antara batu-batu yang lebih besar di dalam toples. Untuk kedua kalinya, dia bertanya kepada para mahasiswanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”

“Belum”, jawab mereka. Sekarang mereka sudah mulai dapat menebaknya.

Tentu saja mereka benar, karena sang profesor mengambil lagi sekantong penuh pasir halus. Dia berusaha menuangkan pasir itu ke dalam toples, mengisi celah-celah di antara batu-batu besar dan kerikil-kerikil yang telah dimasukkan sebelumnya. Lagi-lagi dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”

“Mungkin tidak, Pak, yang tahu cuma Anda,” jawab mahasiswanya.

Tersenyum mendengarkan jawaban itu, sang profesor mengeluarkan seteko air, yang dia tuangkan ke daslam toples yang penuh dengan batu, kerikil, dan pasir halus itu. Ketika tak ada lagi air yang dapat dituangkan ke dalam toples itu, dia meletakkan teko itu dan memandang ke seluruh kelas.

“Lantas, apa pelajaran yang dapat kalian petik?” tanyanya kepada para mahasiswa.

“Tak peduli seberapa padatnya jadwal Anda,” sambut salah seorang mahasiswa, “Anda akan selalu bisa menambahkan sesuatu ke dalamnya!” Jangan lupa, ini kan sekolah bisnis terkenal.

“Bukan!” gelegar sang profesor dengan penuh empati. “Apa yang ditunjukkan adalah jika kalian ingin memasukkan batu-batu yang besar, kalian harus memasukkannya pertama kali.”

Itu adalah pelajaran tentang prioritas.

Jadi  apakah “batu besar” yang ada di dalam “toples” Anda?

Apakah hal yang paling penting yang harus dimasukkan ke dalam kehidupan Anda? Pastikanlah untuk pertama-tama menjadwalkan “batu-batu berharga” ke dalam hidup Anda,  atau Anda tak akan pernah mendapatkannya, untuk mengisi hidup Anda.

YANG TERBESAR DI DUNIA.

Di sebuah kelas seorang guru SD bertanya kepada murid-muridnya ,” Apakah yang paling besar di dunia?”

“Ayah saya,” kata seorang gadis kecil.

“Gajah,” kata seorang bocah yang baru-baru ini mengunjungi kebun binatang.

“Gunung,”jawab yang lainnya.

Seorang murid yang terkenal kepintarannya di kelas berkata,” Mata saya adalah hal yang paling besar di dunia.”

Seluruh kelas hening sesaat, mereka mencoba memahami jawaban murid tersebut. “Apa maksudmu” tanya sang guru, sama-sama dibuat bingung.

“Yaa,” si filsuf cilik mulai menerangkan, “Mata saya bisa melihat ayahnya dan dapat melihat gajah. Mata saya pun dapat melihat gunung serta banyak hal lainnya. Karena itu dapat masuk ke dalam mata saya, mata saya pastilah sesuatu yang paling besar di dunia!”

Untuk menambahkan cerita di atas. Pikiranlah yang merupakan hal terbesar di dunia.

Pikiran dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata dan juga dapat melihat melampaui apa yang nampak dengan melalui imajinasi. Pikiran juga dapat mengetahui adanya suara, yang mana mata tidak dapat melihatnya dan  menyadari sentuhan, baik yang nyata maupun yang ciptaan impian. Pikiran dapat mengetahui apa yang berada di luar jangkauan pancaindra kita. Karena segala sesuatu yang dapat diketahui dapat masuk ke dalam pikiran kita, maka pikiran kita pastilah merupakan hal terbesar di dunia. Pikiran memuat segalanya.

KURA – KURA YANG PEMARAH

Dahulu kala di sebuah danau di suatu pegunungan, hiduplah seekor kura-kura yang pemarah. Kapan pun dia bertemu dengan para binatang yang hidup di sekitarnya, dia akan berbicara begitu banyak dan begitu lama kepada mereka, tanpa jeda, yang membuat para pendengarnya menjadi bosan, lantas terganggu, dan akhirnya jengkel.  Tetapi mereka tidak boleh menyela si kura-kura, karena si kura-kura akan marah apabila dikritik.  Mereka pikir si kura-kura pasti bernapas melalui kupingnya, karena dia tak pernah memakai kupingnya untuk mendengar saran dari yang lain. Dia adalah kura-kura yang cepat marah sampai-sampai para kelinci akan bergegas menyelam ke liangnya, para burung akan terbang ke puncak-puncak pohon yang tinggi, dan para ikan akan bersembunyi di balik batu karang ketika mereka melihat si kura-kura mendekat.

Si kura-kura bawel ini sebenarnya cukup kesepian karenanya. Setiap tahun pada musim panas, sepasang garuda putih yang elok datang berlibur di danau pegunungan itu. Mereka baik hati karena mendengarkan si kura-kura berbicara sesukanya.  Atau barangkali itu karena mereka tahu mereka cuma pelancong yang tinggal sebentar aja. Si kura-kura pemarah memuja sepasang garuda itu. Dia akan berbicara kepada mereka sampai bintang-bintang di langit berhenti berkelip dan kedua garuda tersebut senantiasa mendengarkannya dengan sabar.

Ketika musim panas memudar dan hari menjadi dingin, sepasang garuda itu bersiap untuk pulang kampung. Si kura-kura pemarah mulai menangis. Dia benci dingin dan merasa kehilangan teman-temannya. “Anda saja saya bisa ikut pergi bersama kalian,”desahnya. “Kadang, ketika salju menutupi lereng dan danau saya membeku, saya akan berasa begitu kedinginan dan kesepian. Kami para kura-kura tidak bisa terbang. Dan jika saya harus berjalan, baru sedikit perjalanan saja, waktunya sudah tiba untuk berbalik pulang. Kura-kura berjalan sangat lambat.”

Belas kasih kedua garuda itu tersentuh oleh kesedihan si kura-kura bawel. Karena itu mengajukan sebuah tawaran.

“Kura-kura sayang , jangan menangis. Kami dapat membawamu, jika kamu bersedia memegang satu janji saja.”

“Ya!Ya! Saya janji!” kata si kura-kura pemarah dengan bergairah.

“Kura-kura, kamu harus berjanji untuk tetap menutup mulutmu,” tegas si garuda.

“Gampang!” kata si kura-kura. “Kami kura-kura yang penyabar kog, saya akan diam selama perjalanan..”

Kemudian sepasang garuda menyuruh si kura-kura untuk menggigit bagian tengah dari sebuah tongkat kayu yang panjang dan memastikannya menutup mulutnya. Lalu salah satu garuda memegang satu ujung dari tongkat itu dengan paruhnya dan garuda kedua mengatupkan paruhnya pada ujung yang lain. Mereka lalu mengepakkan sayap untuk terbang dengan mengangkat kura-kura yang mengigit tongkat kayu tersebut.

Lalu terbanglah kura-kura bersama garuda. Semakin lama semakin tinggi. Danau tempat tinggal kura-kura makin tampak mengecil. Bahkan gunung yang besar terlihat mungil di kejauhan.  Mereka terbang melintasi pegunungan dan turun menuju lembah.  Ketika mereka melintasi sebuah sekolah SD , seorang anak murid tanpa sengaja melihat ke langit. Dia melihat kura – kura terbang !

“Hei!” dia berteriak kepada teman-temannya. “Lihat! Ada kura-kura bodoh terbang!”

Mendengar itu, si kura-kura tidak dapat menahan dirinya.

“Siapa yang kamu bilang… uups! … bo… dooo… hh!”

“BRAK!” terdengar suara keras saat tubuh si kura-kura menghantam tanah. Dan itu adalah suara terakhir yang dapat dia keluarkan.

Si kura-kura pemarah tewas karena dia tidak dapat menutup mulutnya pada saat benar-benar diperlukan karena dia sangat marah dikatakan bodoh.

Jadi, jika Anda tidak belajar bersabar diri pada saat yang tepat dan bilamana saat itu benar-benar penting. Anda tak akan mampu menutup mulut Anda ataupun mengendalikan perbuatan Anda lagi.  Bisa jadi Anda akan berakhir sebagai hamburger seperti si kura-kura pemarah.

Rasanya kita semestinya belajar untuk bersabar diri dalam kehidupan kita, karena mungkin dapat menolong kita menghindari banyak kesulitan pada kemudian hari.

(By Ajahn Brahm on Opening the Door of Your Heart)

2 responses

  1. atak

    hahhaa….nice story…
    aliran thong cen,BUDHA DHARMA TAK TERKATAKAN…
    Amitabha…
    bikin cerita lain lg lah….

    Januari 22, 2010 pukul 11:06 PM

  2. Bukan aliran Thong Cen bos.. tapi hanyalah cerita untuk renungan moral aja…

    Januari 23, 2010 pukul 1:51 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s